Category: Artikel

10 Sep

Para Pencipta Peradaban


Ada perbedaan yang mencolok antara masa kepemimpinan Abu Bakar dan Umar dengan penerus kekhalifahan setelahnya. Bersama Sang Rasul, kedua manusia sejarah itu membangun fondasi negara Islam yang kokoh. Teritori yang luas dan utuh, ideologi dan sistem kenegaraan yang komprehensif dan integral, militer yang kuat, berwibawa dan ekspansif, etika sosial yang luhur, kultur kekuasaan yang zuhud di tengah kemelimpahan. Adapun setelahnya hanya memenuhi beberapa atau salah satu dari keunggulan-keunggulan tadi.

Tapi semua para sahabat Rasulullah dan penerus perjuangannya memiliki kesamaan : memiliki akal yang besar. Oleh sebab itu mereka semua memiliki ide peradaban. Mereka semua yakin bahwa ide peradaban adalah salah satu representasi dari usaha untuk merelisasikan dua kalam Allah seperti ini:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi)rahmat bagi semesta alam”
(QS. Al-Anbiya : 107)

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia”
(QS. Ali Imran : 110)

Mereka yakin bahwa mereka dialumnikan oleh Allah untuk kepentingan seluruh umat manusia. Dengan demikian mereka harus memiliki peran di dalam kehidupan manusia yang namanya ustadziyatul ‘alam, soko guru peradaban dunia; menjadi model dari kehidupan terbaik umat manusia.

Ide peradaban itu yang dulu mengantar para sahabat Rasulullah keluar dari Mekah dan Madinah, melintasi berbagai benua dan samudera untuk mengembangkan sistem kehidupan yang fondasinya sudah dibangun secara kokoh oleh Rasulullah. Mereka membawa solusi kehidupan dunia dan akhirat itu untuk dikonsumsi oleh umat manusia. Maka tidak heran jika ada sahabat Rasulullah yang dimakamkan di Cina, Spanyol, Mesir, Turki dan di berbagai negara lainnya.

Ketika Islam diarahkan ke timur pada masa Umar bin Khattab, tumbanglah Persia. Tetapi peradabannya tidak serta merta hancur tanpa sisa. Justru yang kemudian terjadi adalah munculnya peradaban yang lebih maju dan terhormat karena semangat keilmuan dan etika sosialnya yang kental. Ketika diarahkan ke barat, tumbanglah berbagai daerah kekuasaan Romawi. Tetapi capaian materinya tidak serta merta musnah tanpa sisa. Justru yang terjadi adalah kemelimpahan yang didasari keadilan sehingga tercapai kesejahteraan. Malah pada masa Umar bin Abdul Aziz, cucu Umar bin Khotob para amil zakat berkeliling di pelosok-pelosok Afrika untuk membagikan zakat, tapi tak seorang pun yang mau menerima zakat. Artinya, para mustahiq zakat benar-benar habis secara absolut.

Itulah cerita Shuna’ul Hadhoroh, para pencipta peradaban. Kenanglah mereka semua! Islam yang kita nikmati sekarang dibangun di atas tengkorak dan tulang belulang mereka; simbahan darah mereka; aliran keringat mereka.

Beginilah awalnya. Rasulullah menyeru dalam sunyi. Sendiri. Ia membawa setetes embun di padang pasir. Juga menyalakan lilin dalam pekatnya kegelapan malam. Tiba-tiba embun itu berubah menjadi gelombang. Juga lilin itu berubah menjadi matahari. Gelombang itu tidak lain adalah peradaban. Juga lilin itu tidak lain adalah peradaban. Maka membahanalah gaungnya.

Kita akan bertemu dengan peradaban itu lagi. Malah lebih dahsyat. Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah : Agama ini akan sampai ke seluruh muka bumi ini, akan menjangkau seluruh umat manusia sepanjang siang dan malam menjangkau mereka. Semoga Allah merahmati para pengusung peradaban. Aamiin..

Oleh : Diki Saefurohman, Bogor – Fimadani

Mengapa Harus Ekonomi Islam?

Bismillahirrahmaanirrahim.

Di tengah era globalisasi saat ini. Ketika Fakultas Ekonomi begitu diminati, ada yang mengganjal dalam hati saya. Telah banyak sarjana ekonomi bertebaran, namun berlalu begitu saja. Tanpa adanya pergerakan untuk memakmurkan ekonomi khususnya di dalam Negeri kita sendiri.

Mungkin ada yang salah. Dalam pemahaman, tujuan, serta pelaksanaan dari sistem ekonomi yang dipelajari selama ini. Ketika ekonomi hanya menjadi sebuah ilmu tanpa adanya output nyata untuk memajukan ekonomi dalam negeri kita. Ketika ekonomi hanya sebuah pemahaman tanpa adanya tujuan sosial. Ketika ekonomi ditujukan untuk memenuhi keinginan duniawi tanpa pernah berfikir bahwa ekonomi tidak terlepas dari ilmu yang Allah turunkan yang tentunya harus dipelajari dan diamalkan sebagaimana ilmu-ilmu lainnya. Tentunya memakai sumber ilmu dan hukum yang paling utama yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Dua sumber ilmu tersebut cukup untuk kita memaknai ilmu ekonomi yang sejatinya bertujuan untuk kemaslahatan umat lalu menjalankannya sesuai dengan syariat.

Dalam pandangan umum, Ekonomi dikatakan sebagai ilmu sosial yang mengkaji bagaimana menggunakan sumber yang tepat untuk memenuhi keperluan yang belum tercapai. Atas sebab-sebab tertentu, sumber yang diperlukan untuk memenuhi kehendak manusia dikatakan terbatas jumlahnya. Bahkan manusia dikatakan sebagai ‘macan’nya ekonomi yang tidak pernah puas dengan apa yang diinginkan. Justru itu, manusia selalu mencari jalan untuk memenuhi kehendak yang tidak terbatas itu melalui berbagai cara dari berbagai sistem ekonomi.

Di sinilah puncak masalah yang melanda hari ini. Kehendak yang tidak terbatas itu sebenarnya telah menyebabkan manusia dikuasai nafsu dalam memenuhi kehendak mereka. Manusia dididik menjadi makhluk ego yang hanya mementingkan diri sendiri. Tanpa pernah berfikir bahwa dunia adalah ladang kebajikan yang harus kita tanami dengan kebajikan pula untuk dituai di akhirat kelak.

Mari kita simak ayat ini;

“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa saja yang dia kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-israa’: 30)

Dalam ekonomi Islam, dijelaskan bahwa Islam mengajarkan konsep rezeki dan berkah yang melampaui hukum mutu manusia. Islam juga mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu agar tidak keterlaluan dalam memenuhi kehendak. Kehendak yang tidak terbatas adalah aspek yang bertentangan dalam Islam.

Harus kita ketahui, Islam adalah agama sempurna yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia dan alam semesta. Kegiatan perekonomian manusia diatur dengan prinsip ilahiah. Harta yang ada pada kita sesungguhnya bukan milik kita, melainkan titipan dari Allah Swt. Agar dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kepentingan umat manusia yang pada akhirnya semua akan kembali pada Allah Swt untuk dipertanggungjawabkan.

Ada 3 hal yang diinginkan Allah terhadap manusia yang tengah menjalani masa hidupnya di dunia adalah:

1. Tumpuan manusia dalam bertahan hidup untuk mencapai kemenangan dunia-akhirat adalah pada aktivitas ekonomi (yang utama jual-beli).

2. Segala aktivitas ekonomi tersebut tidak lepas dari konsep ibadah kepada Allah SWT.

3. Untuk kepentingan kehidupan manusia tersebut Allah Swt menyediakan segala keperluan mereka, baik keperluan lahir maupun batin.

Tiga hal ini tercangkup dalam sistem ekonomi Islam. Karena Islam memiliki sistem yang sempurna bagi manusia dalam rangka memperoleh kesuksesan hidup. Sistem yang ditawarkan Islam ini lebih luas cakupannya jika dibandingkan sistem konvensional. Sistem ini tidak hanya meliputi mekanisme praktis, tetapi juga meliputi perilaku moral manusia.

Keampuhan ekonomi dan keuangan Islam ini telah teruji, sebagaimana ketika terjadi krisis moneter pada tahun 1997, hanya bisnis Islam lah yang tetap berjaya, bahkan mampu menghasilkan laba usaha yang berlipat, sedangkan saat itu banyak bank-bank dan bisnis lainnya terpaksa tumbang dan dilikuidasi.

Kini pun disaksikan bahwa di Negara-negara yang mayoritas non muslim, telah tumbuh dan berkembang bank-bank, asuransi baru, serta bisnis lainnya bagikan jamur di musim hujan. Demikian pula di kota-kota besar di beberapa Negara tumbuh pula halal-mal, rumah makan halal, dan lain-lain.

Memang telah terbukti dalam pandangan Islam, sebagaimana banyak dijumpai dalam firman Allah Swt bahwa ekonomi Islam tidak semata-mata diperuntukkan untuk umat Islam, akan tetapi untuk seluruh umat manusia.

Masihkah ragu akan keabsahan sistem ekonomi Islam??

Wallahu ‘alam.

Referensi: Buku ‘Islamic Economics and Finance’ karya Prof Dr. Veithzal Rivai, SE, MM., MBA & Antoni Nizar Usman, SE, ME., PhD (*Dakwatuna – Sonia Faiqah)

Berlomba Menjadi Pahlawan


Setiap orang tentu memandang pahlawan seseorang yang luar biasa. Jika dahulu pahlawan adalah orang yang berjuang melawan penjajah negeri ini, maka tentu saja sekarang berbeda. Tapi bukan berarti peluang menjadi pahlawan tidak ada. Bahkan saat ini, peluang tersebut sangat terbuka sekali. Memang musuh bangsa ini sekarang bukan lagi penjajah, tetapi bukankah kebodohan adalah musuh kita? Bukankah kemiskinan juga musuh kita?

Berani Berbuat Baik

Sebagaimana kita ketahui, semangat para sahabat nabi saat berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan dalam upaya melaksanakan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebagaimana kisah Umar bin Khattab ra. dan Abu Bakar ash Shiddiq pada perang Tabuk. Rasulullah saw. pada waktu itu menyeru kepada para sahabatnya untuk memberikan sedekah sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Umar bin Khattab ra. bergegas pulang untuk mengambil setengah hartanya untuk diinfakkan dan dalam hatinya dengan perasaan gembira bahwa hari ini akan bersedekah melebihi Abu Bakar ra. setelah Umar memberikan sedekahnya, Rasulullah bertanya kepada Umar ra. “Apa ada yang kamu tinggal untuk keluargamu, wahai Umar? Umar ra. pun menjawab, Ya, ada yang saya tinggalkan, wahai Rasulullah saw.” Rasulullah saw. bertanya lagi, “Berapa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?” Ia menjawab, “Saya telah tinggalkan setengahnya.”

Tidak berapa lama kemudian Abu Bakar datang dengan membawa seluruh harta bendanya lepada Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. bertanya kepada Abu Bakar, “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, ”Saya meninggalkan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka.” Mendengar hal itu Umar bin Khattab ra. berkata, “Sejak saat ini saya mengetahui bahwa sekali-kali tidak dapat melebihi Abu Bakar dalam hal sedekah.”

Hadapilah Segala Rintangan

Sebuah petuah bijak mengatakan bahwa “Orang besar menepuh jalan kearah tujuan melalui rintangan dan kesukaran yang hebat”. Memang untuk menjadi pahlawan dibutuhkan keberanian dalam menghadapi resiko.

Lihatlah orang-orang selain kita, dengan tanpa malu selalu memarken kebaikan-kebaikan mereka walau hanya membagi-bagi mie dan gula – itupun tidak banyak. Tetapi mereka mengeksposnya di media. Seakan-akan hanya mereka yang baik.

Sedangkan kita yang dari lahir sampai meninggal beramal sosial mengapa tidak kita umumkan. Kita tahu, kita sebenarnya layak menjadi pahlawan. Kita sanggup membantu meringankan beban orang dengan amal-amal kita. Sehingga dengan demikian, orang lain ‘iri’ dan ikut tergerak hatinya untuk berbuat yang sama.

Semoga kita semua terinspirasi dan menginspirasikan untuk terus menjadi pahlawan. Dan akhirnya Islam rahmatan lil ‘alamin akan segera terwujud. Wallahua’lam.

Ust. Asfahani Abdul Manan (Direktur Utama kotakamal INDONESIA)