Category: Oase LMI

19 Sep

5 Tanda Haji Mabrur

Mendapatkan haji mabrur adalah dambaan setiap jamaah haji yang beribadah ke tanah suci. Tentu karena haji merupakan ibadah wajib bagi yang mampu, haji juga menjadi sebuah usaha untuk mendapatkan nilai keimanan yang lebih baik. Dan untuk mendapatkan haji mabrur tidaklah mudah. Bahkan banyak ulama yang berpendapat bahwa yang mendapatkan haji mabrur tidaklah banyak.

Tentu saja haji mabrur sangat diidamkan oleh seluruh jamaah haji, karena Rasulullah Muhammad Shalallahualaihiwasallam bersabda: “Haji mabrur tiada pahalanya kecuali Jannah” (HR Muttafaqun Alaihi)

Untuk mendapatkan haji mabrur tidaklah mudah. Setidaknya terdapat lima tanda jika seseorang mendapatkan haji mabrur, yaitu:

1. Ibadah hajinya harus dilaksanakan dengan harta yang halal. Harta hasil riba, korupsi dan pekerjaan yang tidak halal, tidak akan mendapatkan haji mabrur. “Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik..” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi dan Abd ar-Razaq)

2. Mengerjakan ibadah haji sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shalallahualaihiwasallam seperti rukun, wajib dan sunnahnya dan penuh dengan keikhlasan sehingga tidak boleh riya atau ingin mendapatkan titel pak haji atau bu haji.

3. Mengisi ibadah haji dengan berbagai amalan sholeh selama di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, seperti membantu fakir miskin, sholat, puasa sunnah dan sebagainya. Sebagaimana sabda Rasulullah : Haji mabrur adalah suka membantu memberikan makanan dan santun dalam berbicara” (HR Ahmad dan Tabrani).

4. Menghindari maksiat selama menjalani ihram, namun bukan berarti setelah lepas pakaian ihram boleh maksiat, seperti melakukan perbuatan keji dan buruk. Seperti yang disabdakan Rasulullah : Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji sedang ia tidak berkata kotor dan tidak melakukan kefasikan maka ia kembali pulang dalam keadaan bersih seperti saat ia dilahirkan oleh ibunya” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

5. Setelah haji maka ibadah dan perilakunya meningkat dan lebih baik dari sebelum berangkat haji. Salah satu indikatornya adalah shalat berjamaah, yang rajin shalat di masjid secara berjamaah setelah pulang dari berhaji.

(Muhandira/dari berbagai sumber)

12 Sep

Tanggungjawab Para Ahli Ilmu & Pembelajar

Ketua Persatuan ‘Ulama Muslim Internasional (Ittihadul ‘Alami li ‘Ulamail Muslimin), Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradlawy pekan ini genap berusia 90 tahun. Dalam usia yang panjang itu, khidmahnya untuk dakwah, ilmu, Islam, & kaum muslimin diakui oleh berbagai kalangan.

Semoga Allah menjaga beliau senantiasa dalam keberkahan; dipanjangkan usianya dalam ‘amal shalih, ditutup kelak di puncak segala kebaikan, pun ilmu & ‘amal yang ditebarnya moga tak henti mengalirkan pahala, dengan manfaat yang terus kita & anak-cucu kelak menuainya.

Tentu selain menuai pujian, beliau memiliki sikap-sikap & pendapat-pendapat yang tak selalu disetujui oleh para ‘ulama lain. Tentang ini beliau selalu terbuka & menyatakan, “Tidaklah tercela adanya berbagai perbedaan pandangan; selama mereka yang berselisih menghendaki kebenaran & mengharapkan kebaikan. Yang tercela adalah persengketaan hati & jiwa yang saling mendengki.”

Khusus tentang tanggungjawab para ahli ilmu & pembelajar, bertahun lalu Syaikh pernah menyampaikan taujih yang amat berat. Inilah ketujuh hal tersebut:

1) مَسْؤُوْلٌ عَنْ صِيَانَتِهِ وَحِفْظِهِ حَتَّى يَبْقَى

Seorang ‘Alim -& muta’allim- bertanggung jawab dalam memelihara & menjaga ilmu, agar ianya tetap ada & tak hilang ditelan masa.

2) وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ تَعْمِيْقِهِ وَتَحْقِيْقِهِ حَتَّى يَرْقَى

Seorang ‘Alim -& muta’allim- bertanggung jawab dalam hal memperdalam, menggali, meneliti, & meraih hakikat kebenarannya, agar kian meningkat & bertambah nilainya.

3) وَمَسْؤُوْلٌ عَنِ الْعَمَلِ بِهِ حَتَّى يُثْمِرَ

Seorang ‘Alim -& muta’allim- bertanggung jawab dalam beramal dengannya, agar ilmu itu menghasilkan buah termanisnya.

4) وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ تَعْلِيْمِهِ لِمَنْ يَطْلُبُهُ حَتَّى يَزْكُوَ

Seorang ‘Alim -& muta’allim bertanggung jawab mengajarkannya pada penuntut ilmu, agar ilmu itu menjadi bersih & suci (terbayar zakatnya).

5) وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ بَثِّهِ وَنَشْرِهِ حَتَّى يَعُمَّ نَفْعُهُ

Seorang ‘Alim -& muta’allim- bertanggung jawab dalam menyebarkan & mensyiarkannya agar manfaat ilmu itu semakin luas merata.

6) وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ إِعْدَادِ مَنْ يَرِثُهُ وَيَحْمِلُهُ حَتَّى يَدُوْمَ اِتِّصَالُ حَلَقَاتِهِ

Seorang ‘Alim -& muta’allim bertanggung jawab menyiapkan pelanjut yang kan mewarisi & memikulnya agar mata rantai ilmu terus bersambung tanpa putus.

7) وَقَبْلَ ذَلِكَ كُلِّهِ: مَسْؤُوْلٌ عَنْ إِخْلَاصِهِ فِيْ عِلْمِهِ للهِ حَتَّى يَقْبَلَهُ مِنْهُ

Dan sebelum itu semua, terutama sekali; ‘Alim -& muta’allim- bertanggung jawab untuk ikhlas dalam ilmunya kerana Allah semata, agar diterima olehNya sebagai pengabdian darinya.

Dari Twitter: @salimafillah

 

Salim A Fillah
Penulis
On: FacebookTwitterWebsite

“Hamba Allah yang tertawan dosanya; santri yang tertahan jahilnya; moga berkah dalam faqir-dha’ifnya.”

9 Sep

Pilar Peradaban Muslim

Masjid Merupakan tempat yang paling teduh di dunia. Sebab disinilah para hamba menyungkurkan kepala dalam sujud berserah pada Kekasihnya. Ialah tempat yang paling bercahaya di mayapada, sebab nama Dzat Yang Maha Agung disebut dengan takbir, tahmid, tasbih dan tahlil yang mesra.

Menuju masjid adalah pengalaman berharga. Para pemakmur masjid telah menanggalkan dosa dan melangitkan derajat di sisi Rabbnya, bahkan sejak mengayunkan dua langkah pertama.

“Barang siapa bersuci dari rumahnya kemudian berjalan menuju salah satu rumah diantara rumah-rumah Allah untuk menunaikan suatu fardhu dari kewajiban-kewajiban yang diperintahkan Allah”, begitu titah Rasulullah Shallahualaihiwasallam yang dikemukanan oleh Imam Muslim, “maka salah satu langkah dari kedua kakinya akan menghapus kesalahannya dan langkah lainnya akan meninggikan satu derajat”.

Dari keberkahan akan berlanjut, karena ganjaran shalat bagi yang menunaikannya di masjid akan dilipatkan 27 derajat. Kemudian penantian terindah adalah menunggu shalat dari selesainya suatu shalat. Pada saat itu, pemakmur masjid ini tak henti terhitung shalat dan malaikat akan terus menerus berucap “Allahumma Shalli ‘Alaihi, Allahummarhamhu. Ya Allah, Limpahkanlah kebaikan sempurna kepadanya. Ya Allah, Sayangi dia.”

“Bagian dari negeri-negeri yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya” (HR Imam Muslim)
Dan keberkahan masjid berlanjut dengan majelis ilmu yang ada disana. Ketika firman Allah dihayati di rumah Allah oleh pemakmur masjid. Sang Nabi menyatakan, “Ada tujuh golongan dalam naunganNya pada ketika tiada naungan selain naunganNya”. Dalam hadits yang disepakati kesahihannya oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim ini beliau menyebutkannya satu demi satu, dan diantara mereka adalah “Seorang lelaki yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid-masjid”Ialah madrasah yang telah meluluskan para Ulama dan Pemimpin Ummat. Ialah tempat berfatwa tatkala masyarakat mencari petunjuk dalam mengamalkan agama. Ia pula mahkamah untuk mengadili persengketaan di antara kaum muslimin. Ia adalah ribath, panti tempat dhuafa menggantungkan hidupnya. Ke masjid jugalah, kaum muslimin dihimpun dan ditata untuk keberangkatan dalam jihad, dakwan dan urusan besar lainnya.

Masjid adalah salah satu pilar peradaban Islam, maka Rasulullah mengutamakan pembangunannya begitu beliau tiba dalam hijrahnya di Madinah. Dari sanalah tebit keberkahan, sebab hati-hati yang tersambung ke langit pastilah yang paling mampu membangun bumi.

 

Salim A Fillah
Penulis
On: FacebookTwitterWebsite

“Hamba Allah yang tertawan dosanya; santri yang tertahan jahilnya; moga berkah dalam faqir-dha’ifnya.”